Selasa, 27 Juli 2010

proposal penelitian

BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Perkembangan merupakan bertambahnya kemampuan (skill) dalam struktur dan fungsi tubuh yang lebih komplek dalam pola yang teratur dan dapat diramalkan sehingga hasil dari proses pematangan. Di sini menyangkut adanya proses diferensiasi dari sel-sel tubuh, organ-organ dan sistem organ yang berkembang sedemikian rupa sehingga masing-masing dapat memenuhi fungsinya termasuk juga emosi, intelektual dan tingkah laku sebagai hasil interaksi dengan lingkungan (dr. Soetjiningsih DSAK). Sedangkan perkembangan bahasa berarti perkembangan kemampuan untuk memberikan / menanggapi respon terhadap suara, mengikuti perintah dan berbicara spontan (dr. Soetjiningsih DSAK). Sesuai dengan tahap perkembangan bahasa pada anak usia todler (1-3 tahun), diharapkan pada usia 1-2 tahun anak dapat menyebutkan satu bagian tubuhnya, lebih dari setengah pembicaraannya dapat dimengerti contoh : berkata, ”Num” (dari minum), anak dapat menggabung 2 kata berlainan (contoh : ”Minum cucu”), dan anak dapat menyebutkan salah satu nama-nama anggota keluarganya. Pada usia 2 - 3 tahun anak dapat menyebutkan namanya dengan lengkap, dapat mengucapkan konsonan berikut : d, b, t, k, dan y, anak bisa memakai kalimat tiga kata (subyek – kata kerja – obyek) contoh : berkata ”Aku minum susu”. Namun pada kenyataannya, dapat ditemukan beberapa anak usia todler (1 – 3 tahun) yang mengalami perlambatan perkembangan bahasa, misalnya : pada anak usia 3 tahun belum bisa menyebutkan namanya dengan lengkap. Menurut ”Dynamic System Theory” yang dikembangkan Thelen dan Whiteneyerr, mengungkapkan bahwa untuk membangun kemampuan bahasa anak harus mempersepsikan sesautu di lingkungannya yang memotivasi mereka untuk melakukan sesuatu dan menggunakan persepsi mereka tersebut untuk menanggapi respon mempresentasikan keinginan anak, misalnya : ketika anak mendengar bunyi yang beraneka ragam, anak mempersepsikan dalam otaknya bahwa dia ingin menirukannya. Persepsi tersebut memotivasi anak untuk melakukan sesuatu yaitu bersuara untuk menirukannya. Teori tersebut menjelaskan bahwa ketika dimotivasi untuk melakukan sesuatu mereka dapat menambah perbendaharaan kata yang baru, dan hal tersebut merupakan hasil dari banyak faktor, yaitu : perkembangan system saraf, kemampuan fisik yang memungkinkan, dan lingkungan yang mendukung. Salah satu penerapan dari ”Dynamic System Theory” yaitu pemberian stimulasi. Stimulasi dapat dilakukan sejak bayi baru lahir (Dina Agoes Sulistijani & Maria Poppy Herlianty, 2008 :8). Tujuan pemberian stimulasi pada anak adalah untuk membantu anak mencapai tingkat perkembangan yang optimal atau sesuai dengan yang diharapkan (Suherman, 2003 : 8). Stimulasi dilakukan oleh orang tua (Keluarga) setiap ada kesempatan atau sehari-hari, stimulasi disesuaikan dengan umur dan prinsip stimulasi (Suherman, 2000 : 23).
Perkembangan bahasa pada anak usia todler (1 – 3 tahun) merupakan suatu hal yang sangat penting dan perlu sekali dipantau. Karena merupakan salah satu tolak ukur dalam proses tumbuh kembang anak. Pada kenyataannya kecerdasan perkembangan bahasa setiap anak bersifat individual (berbeda-beda). (Nakita : Buku panduan tumbuh kembang anak), misalnya : Kemampuan menyebutkan namanya dengan lengkap, para ahli berpendapat bahwa umumnya 20% anak dapat menyebutkan namanya dengan lengkap setelah lebih 2,5 tahun, jika anak belum dapat menyebutkan namanya maka sebaiknya orang tua mengevaluasi kembali proses tumbuh kembangnya beberapa bulan (Rachmani, 2001 : 9). Berdasarkan study pendahuluan pada tanggal Juni 2009 di Posyandu Dusun Bulurejo, Desa Kedungombo,Kec.Tanjunganom , Kab. Nganjuk jumlah anak yang berusia 1 – 3 tahun sebanyak 32 anak, dari anak yang hadir didapatkan 19 anak mengalami keterlambatan perkembangan bahasa.
Penyebab keterlambatan perkembangan bahasa, diantaranya retardasi mental, gangguan pendengaran, maturation delay (faktor ini terjadi akibat terlambatnya maturasi proses neurologis yang dibutuhkan otak), penggunaan dua bahasa atau lebih dalam lingkungan rumah. Pengaruh sosial juga mempengaruhi, misal terkait kemiskinan, deprivasi sosial pada anak (stimulasi yang tidak adekuat, orang tua tunggal, stres emosional, dan penelantaran anak) (dr. Sabar Hutabarat SpA). Keterlambatan perkembangan bahasa secara optimal. Pemberian stimulasi, dorongan, dan kesempatan kepada anak untuk aktif dalam kegiatan yang melibatkan percakapan akan dapat mempercepat perkembangan bahasa pada anak. Apabila rangsangan atau stimulasi tidak diberikan dan adanya perlindungan yang berlebihan maka perkembangan anak dapat terhambat dan dapat menimbulkan gangguan pada penyesuaian dan pribadi anak.
Jika memang ditemukan adanya keterlambatan perkembangan bahasa pada anak, maka harus segera ditelusuri penyebabnya sebelum menentukan apa yang harus dilakukan. Bila penyebabnya karena perbedaan pola asuh atau orang tua yang terlalu protektif maka pertama-tama yang harus diubah adalah sikap orang tua. Orang tua harus selalu memberikan dorongan pada anaknya untuk bertanya, memilih, dan menjawab pertanyaan dengan kemampuan bahasanya. Dengan upaya ini akan semakin terpicu untuk melatih semua tahap perkembangan bahasanya, tetapi kalau penyebab keterlambatan tersebut karena kelainan tubuh tertentu maka harus segera dikonsultasikan dengan dokter anak, agar kecerdasan perkembangan bahasa anak tumbuh dan berkembang optimal. Maka sebagai orang tua perlu memahami tahap-tahap perkembangannya dan memberikan stimulasi atau rangsangan yang tepat sesuai tahap perkembangannya tersebut. Dengan demikian, bila terjadi keterlambatan atau gangguan pada perkembangan bahasa anak bisa segera terdeteksi dan dikoreksi (Ayah bunda, 2002).

B. Rumusan Masalah
Berdasarkan latat belakang di atas, maka penulis dapat merumuskan masalah-masalah ”Adakah hubungan stimulasi orang tua dengan perkembangan pada anak usia todler (1 – 3 tahun) Di Posyandu Dsn.Bulurejo,Ds.Kedungombo,Kecamatan Tanjunagom,Kab.Nganjuk.

C. Tujuan Penelitian
Adapun tujuan penelitian adalah

C.1 Tujuan umum
Untuk mengetahui hubungan pemberian stimulasi orang tua dengan perkembangan bahasa pada anak usia todler(1-3 tahun)
C.2 Tujuan khusus
1. Mengidentifikasi pemberian stimulasi pada todler (1 – 3 tahun) Di Posyandu Dsn.Bulurejo, Ds.Kedungombo, Kec. Tanjunagom, Kab.Nganjuk
2. Mengidentifikasi perkembangan bahasa pada anak usia todler (1 – 3 tahun) diPosyandu Dsn.Bulurejo, Ds.Kedungombo, Kec. Tanjunagom,Kab.Nganjuk
3. Menganalisa hubungan pemberian stimulasi dengan perkembangan bahasa pada anak usia todler (1 – 3 tahun) Di Posyandu Dsn.Bulurejo,Ds.Kedungombo,Kec. Tanjunagom,Kab.Nganjuk

D. Manfaat Penelitian
D.1 Bagi peneliti
Sebagai bahan atau sumber data untuk penelitian selanjutnya dan mendorong bagi yang berkepentingan untuk penelitian yang lebih lanjut.
D.2 Bagi responden
Melalui penelitian ini diharapkan orang tua mengetahui perkembangan bahasa dan stimulasi/rangsangan seperti apa yang harus diberikan pada anak usia todler (1-3 tahun), sehingga perkembangan bahasa pada anak usia todler bisa dioptimalkan.
D.3 Bagi STIKes Satria Bhakti Nganjuk
1. Sebagai bahan asuhan dan kajian untuk penelitian berikutnya guna mencapai standart keperawatan yang baik.
2. Meningkatkan perbendaharaan sumber tertulis bagi STIKes Satria Bhakti Nganjuk dalam meningkatkan kualitas pendidikan.

E. Batasan Penelitian
Mengingat luasnya permasalahan pada perkembangan anak, sesuai dengan judul penelitian maka peneliti membatasi penelitian hanya pada :
1. Pemberian stimulasi perkembangan bahasa pada anak usia todler (1-3 tahun) Di Posyandu Dsn.Bulurejo,Ds.Kedungombo,Kec. Tanjunagom,Kab.Nganjuk
2. Perkembangan bahasa pada anak usia todler (1-3 tahun) Di Posyandu Dsn.Bulurejo, Ds.Kedungombo, Kec. Tanjunagom, Kab.Nganjuk
3. Hubungan pemberian stimulasi orang tua pada anak usia todler (1-3 tahun) Di Posyandu Dsn.Bulurejo,Ds.Kedungombo,Kec. Tanjunagom, Kab.Nganjuk.






BAB 2
TINJAUAN PUSTAKA

Pada bab ini akan dijelaskan beberapa konsep dasar yang mendasari penelitian yang meliputi : Konsep stimulasi, konsep perkembangan bahasa, konsep anak, konsep orang tua, kerangka konseptual, serta hipotesa.
A. Konsep Stimulasi
A.1 Pengertian
Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, stimulasi adalah rangsangan, dorongan, atau kecenderungan sedangkan menurut Dep.Kes.RI. 2005 : 15, stimulasi adalah kegiatan merangsang kemampuan dasar anak umur 0 – 6 tahun agar anak tumbuh dan berkembang secara optimal. Stimulasi merupakan hal yang penting dalam tumbuh kembang anak. Anak yang mendapat stimulasi yang terarah dan teratur akan lebih cepat berkembang dibandingkan dengan anak yang kurang / tidak mendapat stimulasi (dr. Soetjiningsih, DSAK).
Setiap anak perlu mendapat stimulasi rutin mungkin dan terus menerus pada setiap kesempatan. Stimulasi tumbuh kembang anak dilakukan oleh ibu dan ayah yang merupakan orang terdekat dengan anak, pengganti ibu atau pengasuh anak, anggota keluarga lain dan kelompok masyarakat di lingkungan rumah tangga masing-masing dan dalam kehidupan sehari-hari. Kurangnya stimulasi dapat menyebabkan penyimpangan tumbuh kembang anak bahkan gangguan yang menetap (Dep.Kes.RI. 2005 :15)
A.2 Tujuan stimulasi
Tujuan tindakan memberikan stimulasi pada anak adalah untuk membantu anak mencapai tingkat perkembangan yang optimal/sesuai yang diharapkan. Tindakan ini meliputi berbagai aktivitas untuk merangsang perkembangan anak, seperti latihan gerak, berbicara, berfikir, kemandirian, dan sosialisasi. Stimulasi dilakukan oleh orang tua (keluarga) setiap ada kesempatan atau sehari-hari. Stimulasi disesuaikan dengan umur dan prinsip stimulasi (Suherman 2000).
A.3 Prinsip Stimulasi
Tindakan pemberian stimulasi perkembangan pada anak dilakukan dengan prinsip bahwa stimulasi merupakan :
1. Sebagai ungkapan rasa kasih dan sayang, bermain dengan anak, berbahagia bersama.
2. Bertahap dan berkelanjutan mencakup 4 bidang kemampuan berkembang.
3. Stimulasi dilakukan dari tahap yang mudah dicapai oleh anak.
4. Dilakukan dengan wajar tanpa paksaan / hukuman atau marah bila anak tak dapat melakukannya.
5. Beri pujian bila anak berhasil.
6. Alat bantu sederhana dan mudah didapat misalnya mainan yang dibuat sendiri dari bahan bekas, alat yang ada di rumah atau benda yang terdapat di alam sekitarnya.
7. Suasana menyenangkan, bervariasi, dan segar agar tak bosan.
(Suherman, 2000 : 23)
Stimulasi pada anak umur 1 – 2 tahun
Perkembangan Bahasa Stimulasi
a. Lebih dari setengah pembicaraannya dapat dimengerti, contoh : berkata, ”Num” dari kata minum.

b.Dapat menyebutkan satu bagian tubuh.






c.Menggabung dua kata berlainan








d. Menyebutkan nama salah satu anggota keluarganya.










a. Ketika anak haus, letakkan botol susu di depannya dan latih anak untuk berkata ”Minum” sambil menunjuk ke arah botol, meskipun anak hanya dapat menyebutkan akhirannya yaitu ”Num”.
b. Ketika anak lapar pasti ia akan minta makanan.Ajari anak sewaktu makan harus pakai tangan kanan dan instruksikan anak menunjukkan tangan kanannya.Maka secara perlahan anak akan mengerti mana yang dimaksud tangan kanan.
c. Anak senang melihat gambar yang berwarna cerah.Letakkan gambar binatang dan tumbuhan kedekat anak.Ajari anak menyebutkan satu per satu gambar tersebut kemudian gabung nama gambar tersebut sehingga menjadi dua kata dan latih anak menyebutkan secara berulang-ulang.
d. Ketika anggota keluarga sedang berkumpul,kenalkan satu per satu nama anggota keluarga ke anak,kemudian minta anak menunjuk dan menyebutkan satu per satu nama anggota keluarga,secara bertahap anak akan mengerti.
Tabel 2.1 Stimulasi pada anak usia 1-2tahun

Stimulasi anak usia 2-3 tahun
a.Mengucapkan konsonan (a,b,t,k,y).



b.Memakai kalimat tiga kata yang terdiri subjek, predikat, objek.





c.Menyebutkan namanya dengan lengkap.



d.Membuat kesalahan suara spesifik(s,sh.ch,z,th,r,l)

a.Letakkan gambar hewan yang namanya mengandung huruf d,b,t,k,y kedekat anak.Ajari anak menyebutkan nama hewan digambar dan kemudian minta anak untuk mengulanginya.
b.Ajak bermain gambar hewan,misalnya sapi dan kemudian jelaskan seputar tentang sapi bisa makananya,tempat hidupnya,dll.Latih anak untuk merangkaikan kata-kata yang muncul dari sapi,berikan contoh terlebih dulu dan kemudian minta anak mengulanginya.
c.Kenalkan nama lengkapnya dan kemudian minta untuk mengulanginya.Panggil nama anak dengan lengkap dan minta anak menunjukkan jarinya.
d.Letakkan mainan yang mengandung nama huruf s,r,l,z ,kemudian minta anak menunjuk mainan yang paling dusukainya dan kenelkan mainan yang ditunjuk anak .Hal ini untuk mengetahui apakah ada kesalahan suara dan jika ada segera benarkan kesalahan pengucapan suara anak.
Tabel 2.2 Stimulasi pada anak usia 2-3 tahun


D. Konsep Ibu
D.1 Pengertian
Ibu adalah sebutan untuk orang yang telah melahirkan kita yang telah bersuami (Purwodarminto, 1991 : 91)
D.2 Peran ibu
1. Sebagai istri dan ibu dari anak-anaknya
2. Pengurus rumah tangga
3. Sebagai pengasuh
4. Sebagai pendidik anak
5. Sebagai pelindung
6. Sebagai pencari nafkah tambahan dalam keluarganya
(Nazrul Effendi, 1998 : 34)

E. Kerangka Konseptual
Kerangka konseptual adalah abstraksi dari suatu realita agar dapat dikomunikasikan dan membentuk suatu teori yang menjelaskan keterkaitan antar variable (baik variable yang diteliti maupun yang tidak diteliti). (Nursalam, 2008 :55). Sedangkan menurut Aziz A, 2003 : 34 Kerangka konseptual merupakan justifikasi ilmiah terhadap penelitian yang dilakukan dan memberi landasan kuat terhadap judul yang dipilih sesuai dengan indikasi masalah. Konsep pada dasarnya adalah merupakan penelitian-penelitian yang akan dilakukan (Soekidjo N, 2002 : 69)


Anak
Usia todler (1 – 3 tahun)




















Keterangan :
: Diteliti : Tidak diteliti


Gambar 2.1 Kerangka konsep hubungan stimulasi orang tua dengan perkembangan bahasa pada anak usia todler (0-3 tahun) di Posyandu RW
2.6 Hipotesa
Hipotesa adalah suatu asumsi tentang hubungan antara dua atau lebih variable yang diharapkan menjawab pertanyaan dalam riset (Nursalam dan Pariani, 2000 : 36)
Ha : Ada hubungan antara pemberian stimulasi dengan perkembangan bahasa pada anak usia todler (1 – 3 tahun)


















BAB 3
METODOLOGI PENELITIAN

A. Desain Penelitian
Desain penelitian adalah suatu strategi untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan dan berperan sebagai pedoman atau penuntun peneliti pada seluruh proses penelitian (Nursalam, 2008 : 81).
Berdasarkan tujuan penelitian, desain yang digunakan peneliti adalah cose control. Penelitian cose control yang merupakan rancangan penelitian yang membandingkan antara kelompok kontrol untuk mengetahui proporsi kejadian berdasarkan riwayat ada tidaknya paparan. Penelitian ini dikenal dengan retrospektif yaitu rancangan bangun dengan melihat ke belakang dari suatu kejadian yang berhubungan dengan kejadian kesakitan ysng diteliti (Alimul A., 2007 : 51).

B. Waktu dan Tempat Penelitian
Penelitian ini dilakukan Di Posyandu Dsn.Bulurejo,Ds.Kedungombo, Kec.Tanjunagom, Kab.Nganjuk dan akan dilakukan pada waktu pelaksanaan mulai tanggal ......................... sampai dengan .................

C. Kerangka Penelitian
Merupakan bagan kerja terhadap rangsangan kegiatan penelitian yang akan dilakukan, meliputi siapa yang akan diteliti (subjek penelitian), variabel yang akan diteliti dan variabel yang mempengaruhi dalam penelitian (Alimul, Aziz, 2003 : 34).Kerangka kerja sebagai berikut :






















Gambar 3.1 Kerangka penelitian hubungan stimulasi orang tua dengan perkembangan bahasa pada anak usia todler (1 - 3 tahun) Di Posyandu Dsn.Bulurejo,Ds.Kedungombo,Kecamatan Tanjunagom,Kab.Nganjuk



D. Sampling Desain
D.1 Populasi
Populasi dalam penelitian adalah setiap subjek (misalnya manusia, pasien) yang memenuhi kriteria yang telah ditetapkan (Nursalam, 2003 : 93). Populasi dalam penelitian ini adalah semua ibu yang mempunyai anak usia todler (1-3 tahun) Di Posyandu Dsn.Bulurejo,Ds.Kedungombo,Kecamatan Tanjunagom,Kab.Nganjuk


D.2 Sampel penelitian
Sampel terdiri dari bagian populasi terjangkau yang dapat dipergunakan sebagai subjek penelitian melalui sampling (Nursalam, 2003 : 95). Sampel yang digunakan adalah ibu yang mempunyai anak usia todler (1 - 3 tahun) di Posyandu RW Desa Kedungombo, Kecamatan Tanjunganom, Kabupaten Nganjuk dengan jumlah anak. Sampel yang digunakan dalam penelitian ini diambil dengan memperhatikan kriteria inklusi dan eksklusi.
a. Kriteria inklusi
Kriteria inklusi adalah karakteristik umum subjek penelitian dari suatu populasi target dan terjangkau yang akan diteliti (Nursalam, 2003 : 96).
Kriteria inklusi pada penelitian ini adalah :
1. Keluarga anak yang bersedia untuk diteliti
2. Keluarga anak yang bisa membaca dan menulis
3. Keluarga dan anak yang ada saat pengambilan data
4. Keluarga dengan anak minimal usia 12 bulan
b. Kriteria eksklusi
Kriteria eksklusi adalah menghilangkan atau mengeluarkan subjek yang memenuhi kriteria inklusi dari studi (Nursalam, 2003 : 97).
Keluarga yang tidak ada pada saat pengambilan data atau yang datang dengan anak bukan ibu atau pengasuhnya.


















Tabel 3.1 Definisi operasional penelitian hubungan stimulasi orangtia dengan
Perkembangan bahasa pada anak usia todler(1-3tahun).Di
Posyandu Dsn.Bulurejo, Ds.Kedungombo ,Kec. Tanjunganom,
Kab.Nganjuk

Variabel Definisi Operasional Indikator Alat Ukur Skala Skor
Variabel independen stimulasi orang tua pada anak usia todler



Variabel dependen perkembangan bahasa pada anak usia todler (1-3 tahun) Suatu rancangan yang diberikan oleh orang tua kepada anak usia todler



Tingkat perkembangan bahasa yang harus dicapai anak pada usia todler - Macam stimulasi
- Cara pemberian stimulasi
- Waktu pemberian stimulasi
- Tempat pemberian stimulasi
- Jenis stimulasi

- Tahap-tahap perkembangan bahasa
- Faktor-faktor yang dapat mempengaruhi perkembangan bahasa
- Tanda dan gejala terjadinya kelainan perkembangan bahasa.


D.3 Sampling
Sampling adalah proses menyeleksi porsi dari populasi untuk dapat mewakili populasi (Nursalam, 2008 : 93). Dalam penelitian ini, pengambilan sample menggunakan metode purposive sampling disebut juga judgement sampling. Adalah suatu tehnik penetapan sampel dengan cara memilih sampel diantara populasi sesuai dengan yang dikehendaki peneliti (tujuan/masalah dalam penelitian), sehingga sampel tersebut dapat mewakili karakteristik populasi yang telah dikenal sebelumnya (Nursalam, 2008 : 94).

E. Identifikasi Variabel
Variabel adalah perilaku atau karakteristik yang memberikan nilai beda terhadap sesuatu (benda, manusia, dll) (Soeparto Tata Putra dan Hariyanto, 2000 : 54) dikutip oleh (Nursalam, 2008 : 97). Dalam penelitian ini peneliti menggunakan dua variabel yaitu :
1. Variabel independent (variabel bebas)
Merupakan variabel yang menjadi sebab atau timbulnya variabel dependen (terikat). Variabel ini dikenal dengan nama variabel bebas, artinya bebas dalam mempengaruhi variabel lain (Aziz Alimul, 2008 : 37). Variabel independent dalam penelitian ini adalah pemberian stimulasi orang tua pada anak usia todler (1-3 tahun)


2. Variabel dependent (variabel tergantung)
Variabel dependen merupakan variabel yang dipengaruhi atau menjadi akibat karena variabel bebas. Variabel ini dapat tergantung dari variabel bebas terhadap perubahan (Alimul A, 2003 : 37). Variabel dependen dalam penelitian ini adalah perkembangan bahasa pada anak usia todler (1-3 tahun).

F. Definisi Operasional
Definisi operasional adalah mendefinisikan variabel secara operasional dan berdasarkan karakteristik yang diamati, memungkinkan peneliti untuk melakukan observasi atau pengukuran secara bertahap suatu objek atau fenomena (Alimul A, 2002 : 39).

G. Pengumpulan Data dan Analisa Data
G.1 Pengumpulan data
Dalam melakukan penelitian, prosedur yang ditetapkan :
1. Mengurus surat izin penelitian ke STIkes Satria Bhakti Nganjuk.
2. Mengurus surat izin penelitian ke DINKES Kabupaten Nganjuk.
3. Mengurus surat izin penelitian kepada Kepala Puskesmas Desa Kedungombo.
4. Mengurus surat izin penelitian kepada Posyandu Dusun Bulurejo, Desa Kedungombo, Kecamatan Tanjunganom, Kabupaten Nganjuk.
5. Memberi penjelasan kepada calon responden dan jika bersedia menjadi responden dipersilahkan menandatangani lembar informed concent.
6. Responden harus mengisi daftar pertanyaan dalam angket yang diberikan kemudian diserahkan pada peneliti.
7. Peneliti melakukan observasi pada anak dengan menggunakan standarisasi perkembangan sesuai dengan usia anak (KPSP).
8. Peneliti melakukan pengolahan meliputi pengumpulan jawaban tabulasi, coding, narasi, memproentasikan setiap variabel kemudian diinterpretasikan dengan menggunakan skala kualitatif dan uji statistic dengan spearman rank dengan program SPSS veri II signifikasi nilai 0,05.
9. Peneliti melakukan pengolahan data hasil observasi.
G.2 Instrumen penelitian
Yang dimaksud dengan instrumen adalah alat/fasilitas yang digunakan oleh peneliti dalam mengumpulkan data agar pekerjaannya lebih mudah dan hasilnya lebih baik / dalam arti lebih cermat, lengkap dan sistematik sehingga lebih mudah diolah (Arikunto, 2002 : 236). Pengumpulan data yang digunakan pada variabel independent adalah dengan quisioner dan pada variabel dependen dengan observasi dan check list (). Dari hasil pengisian quisiner serta observasi dan check list ditabulasikan dan dianalisis, disajikan dalam bentuk table berdasarkan tiap-tiap variabel kemudian diuraikan sesuai hasil yang dicapai guna mengetahui hubungan pemberian stimulasi orang tua dengan perkembangan bahasa pada anak usia todler (1-3 tahun).

G.2. Analisa Data
Sebelum dilakukan perhitungan setiap item pertanyaan akan diberikan skor sebagai berikut :
1. Pemberian stimulasi pada anak usia todler(1-3 tahun)
Bila dilakukannya nilainya 1
Bila tidak dilakukan nilainya 0
2. Perkembangan bahasa pada anak usia todler(1-3 tahun)
Bila ya nilainya 1
Bila tidak nilainya 0
Dari hasil jawaban responden yang telah diberi nilai kemudian dibandingkan /dibagi dengan jumlah maksimal lalu dikalikan 100%
Dengan rumus :
N = Sp x 100%
Sm
Keterangan :
N : Nilai yang didapat
Sp : Skor yang didapat
Sm : Skor maksimum




Pemberian stimulasi orangtua pada anak usia todler (1-3 tahun)
a.baik : 81%-100%
b.cukup : 61%-80%
c.kurang : < 60%
Perkembangan bahasa pada anak usia todler(1-3 tahun)
a.sesuai : 81%-100%
b.meragukan : 61%-80%
c.penyimpangan/kurang : < 60%
Tehnik/uji statistik yang digunakan dalam penelitian ini adalah menggunakan
Tehnik Spearman Rank dengan rumus :
∑bi2
n(n2-1)
keterangan :
ρ : Koefisien korelasi Sperman Rank
bi: Selisih antara variabel 1 dan 2
n: Jumlah sample







Kemudian diinterprestasikan dari korelasi menurut ukuran yang konservatif
Yaitu :
Besarnya r Interprestasi
Antara 0,800 sampai dengan 1,000
Antara 0,600 sampai dengan 0,800
Antara 0,400 sampai dengan 0,600
Antara 0,200 sampai dengan 0,400
Antara 0,000 sampai dengan 0,200 Tinggi
Cukup
Angka rendah
Rendah
Sangat Rendah(tidak berkorelasi)

( Arikunto,1998:260)
Dalam penelitian menggunakan uji statistik korelasi Sperman Rank dengan tingkat signifikan α < 0.05 .Kaidah pengujian yang digunakan adalah menerima Ha atau menolak Ho.Sedangkan analisa data dalam penelitian ini digunakan program SPSS 11.

H. Etika Penelitian
Dalam melakukan penelitian,peneliti mengajukan permohonan ijin,kemudian quisioner dikirim keobjek yang diteliti dan peneliti melakukan observasi kemudian mengisi check list dengan menekankan pada masalah etika yang meliputi:
H.1 Informed consent
Lembar persetujuan diberikan kepada responden.Tujuannya adalah subyek mengetahui maksud dan tujuan penelitian serta dan dampak diteliti selama pengumpulan data.Jika subjek menolak,maka peneliti tidak akan memaksa
H.2 Anonimity (Tanpa nama)
Untuk menjaga kerahasiaan identitas responden,peneliti tidak akan mencantumkan nama subjek pada lembar quisioner,hanya diberi kode responden.

H.3 Confidentiallity (kerahasiaan)
Kerahasiaan informasi responden dijamin oleh peneliti,hanya kelompok data tertentu saja yang akan disajikan/dilaporkan sebagai hasil riset.

I.Keterbatasan
I. 1 Faktor Feasibility
Pengambilan sample pada penelitian sangat terbatas,sehingga jumlah dan hasilnya kurang sempurna/kurang memuaskan.
I.2 Kemampuan Peneliti
Pada penelitian ini merupakan penelitian pertama, sehingga hasilnya kurang memuaskan.

1 komentar:

  1. Makasih,.. Buat Gambaran Proposal Skripsi Adik Sy :)

    BalasHapus